Wiwin Indiarti - Nama Orang; Yusup Khoiri - Nama Orang;
E-Book Lontar Sri Tanjung: Kidung Kuno Ujung Timur Jawa
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi · 2020
Penilaian
0,0
dari 5Informasi Detail Buku
ISBN/ISSN
9786239516109
Penerbit
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi
Tahun Terbit
2020
Halaman
xx + 547hlm.;23cm.
Bahasa
Indonesia
Klasifikasi
091.0959828
Edisi
Cet. 1
No. Panggil
091.0959828 IND l
Subjek
Sinopsis
SRI TANJUNG, sebuah puisi lirik Jawa Kuno, merentangkan romansa percintaan yang diliputi pertemuan, intrik, kemalangan, kisah penyucian jiwa, perjumpaan kembali, dan kebahagiaan. Kisah ini tidak hanya tertera dalam manuskrip, namun ia mewujud dalam bentuk pahatan relief, menjadi legenda etiologis, dan pernah hidup dalam ritual pelantunan tembang di ujung timur Jawa. Sri Tanjung diyakini merupakan kelanjutan dari cerita Sudamala, kisah lika-liku petualangan si kembar Pandawa, yaitu Sakula dan Sadewa. Sedangkan Sri Tanjung merupakan kisah lanjutan yang menceritakan keturunan si kembar Pandawa tersebut, Sri Tanjung dan Sidapaksa. Kedua kisah itu memiliki akar pada epos besar Mahabharata, yang tercatat sebagai salah satu hasil kebudayaan India kuno dan memiliki andil terhadap perkembangan kesusastraan Jawa pada umumnya.
Dalam wujud naskah, puisi Sri Tanjung diduga ditulis di mandala dan asrama sastra Blambangan, yang berkembang pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Larik-larik puisi yang dikenal sebagai kidung Sri Tanjung itu dianggap sebagai hasil sastra dan kebudayaan kerajaan Blambangan di ujung timur Jawa. Ketika dikuasai oleh VOC pada tahun 1770-an, wilayah Banyuwangi merupakan kepingan terakhir dari kerajaan Hindu Blambangan - sebuah kerajaan di ujung timur Jawa - yang berdasarkan legenda etiologisnya berkait erat dengan kisah Sri Tanjung.
Manuskrip Sri Tanjung terbagi setidaknya atas versi Bali dan versi Banyuwangi. Perbedaan naskah Sri Tanjung versi Banyuwangi dengan versi Bali, salah satunya adalah dalam pola pembagian pupuh. Semua naskah Sri Tanjung versi Bali memiliki bentuk yang sama, hanya menggunakan satu pupuh ukir, dengan bait panggalang di kawitan (bagian awal pupuh). Sedangkan Sri Tanjung Banyuwangi terdiri atas setidaknya empat pupuh berbeda (ukir, mijil, mahesa langit, dan durma). Buku ini merupakan tulisan pertama yang menulis secara lengkap transliterasi dan terjemahan atas manuskrip Sri Tanjung versi Banyuwangi.
Dalam wujud naskah, puisi Sri Tanjung diduga ditulis di mandala dan asrama sastra Blambangan, yang berkembang pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Larik-larik puisi yang dikenal sebagai kidung Sri Tanjung itu dianggap sebagai hasil sastra dan kebudayaan kerajaan Blambangan di ujung timur Jawa. Ketika dikuasai oleh VOC pada tahun 1770-an, wilayah Banyuwangi merupakan kepingan terakhir dari kerajaan Hindu Blambangan - sebuah kerajaan di ujung timur Jawa - yang berdasarkan legenda etiologisnya berkait erat dengan kisah Sri Tanjung.
Manuskrip Sri Tanjung terbagi setidaknya atas versi Bali dan versi Banyuwangi. Perbedaan naskah Sri Tanjung versi Banyuwangi dengan versi Bali, salah satunya adalah dalam pola pembagian pupuh. Semua naskah Sri Tanjung versi Bali memiliki bentuk yang sama, hanya menggunakan satu pupuh ukir, dengan bait panggalang di kawitan (bagian awal pupuh). Sedangkan Sri Tanjung Banyuwangi terdiri atas setidaknya empat pupuh berbeda (ukir, mijil, mahesa langit, dan durma). Buku ini merupakan tulisan pertama yang menulis secara lengkap transliterasi dan terjemahan atas manuskrip Sri Tanjung versi Banyuwangi.
Ketersediaan
#
Perpustakaan SMA Kolese Loyola Semarang
091.0959828 IND l 000807-eB-0122
000807-eB-0122
Tersedia
Lampiran Berkas
Rekomendasi Buku Lainnya
0 BukuTidak ada rekomendasi buku yang ditemukan.