Pete Carey - Nama Orang; Mulyawan Karim - Nama Orang; Th. Bambang Murtianto - Nama Orang;
Takdir : Riwayat pangeran Diponegoro (1785-1885)
KOMPAS · 2017
Penilaian
0,0
dari 5Informasi Detail Buku
ISBN/ISSN
9786024122157
Penerbit
KOMPAS
Tahun Terbit
2017
Halaman
xiii + 464 hlm.; illus. 15 x 23 cm
Bahasa
Indonesia
Klasifikasi
959.8
Edisi
cet. 5
No. Panggil
959.8 CAR t
Subjek
Sinopsis
Sebagai nenek moyang dan pejuang yang kemudian menjadi pahlawan nasional, Kanjeng Pangeran Diponegoro telah mewariskan kebanggaan tersendiri. Dalam tubuh kami mengalir darah seorang pejuang yang kegigihannya diakui oleh musuh-musuhnya. Tetapi, dalam kebanggaan itu juga melekat beban dan tanggung jawab untuk menjaga nama baik beliau.
Penangkapan dan pembuangan Sang Pangeran (1830-1855) menyisakan penderitaan yang dalam pada ibu, istri-istri, putra-putri, dan generasi penerusnya. Keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro yang ada di Pulau Jawa mengalami penderitaan panjang dengan menyandang stempel keturunan pemberontak yang terus dikejar-kejar pemerintah penjajahan, kasultanan, dan kasunanan. Mereka hidup bagai binatang di dalam hutan yang selalu menjadi buruan dan terpaksa melepas segala gelar keningratan, menjadi rakyat biasa, sambil terus melakukan perlawanan.
Nasib keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro di pembuangan tidak kalah menyakitkan. Mereka hidup di tanah asing dan tidak pernah diizinkan kembali ke tanah nenek moyang di Jawa sampai menjelang kemerdekaan.
Keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro berserakan, terpisah dan tidak pernah saling mengenal karena jarak dan waktu, hingga Allah mengizinkan mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di bekas kediaman Kanjeng Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, pada tahun 2012 lalu, 187 tahun setelah kediaman itu dibumihanguskan Belanda.
Penangkapan dan pembuangan Sang Pangeran (1830-1855) menyisakan penderitaan yang dalam pada ibu, istri-istri, putra-putri, dan generasi penerusnya. Keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro yang ada di Pulau Jawa mengalami penderitaan panjang dengan menyandang stempel keturunan pemberontak yang terus dikejar-kejar pemerintah penjajahan, kasultanan, dan kasunanan. Mereka hidup bagai binatang di dalam hutan yang selalu menjadi buruan dan terpaksa melepas segala gelar keningratan, menjadi rakyat biasa, sambil terus melakukan perlawanan.
Nasib keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro di pembuangan tidak kalah menyakitkan. Mereka hidup di tanah asing dan tidak pernah diizinkan kembali ke tanah nenek moyang di Jawa sampai menjelang kemerdekaan.
Keturunan Kanjeng Pangeran Diponegoro berserakan, terpisah dan tidak pernah saling mengenal karena jarak dan waktu, hingga Allah mengizinkan mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di bekas kediaman Kanjeng Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, pada tahun 2012 lalu, 187 tahun setelah kediaman itu dibumihanguskan Belanda.
Ketersediaan
#
Perpustakaan SMA Kolese Loyola Semarang
959.8 CAR t 008086-B-0117
008086-B-0117
Tersedia
Rekomendasi Buku Lainnya
0 BukuTidak ada rekomendasi buku yang ditemukan.